<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>alineakiri</title>
	<atom:link href="http://alineakiri.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alineakiri.wordpress.com</link>
	<description>Cogito Ergo Sum</description>
	<lastBuildDate>Fri, 26 Jan 2007 19:32:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alineakiri.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>alineakiri</title>
		<link>http://alineakiri.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alineakiri.wordpress.com/osd.xml" title="alineakiri" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alineakiri.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>&#8220;Banjir&#8221;</title>
		<link>http://alineakiri.wordpress.com/2007/01/18/banjir/</link>
		<comments>http://alineakiri.wordpress.com/2007/01/18/banjir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jan 2007 14:03:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alineakiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alineakiri.wordpress.com/2007/01/18/banjir/</guid>
		<description><![CDATA[“Banjir”   Jakarta dilanda banjir&#8230;Dua puluh tiga ekor paus telah menyeret gunung es dari kutub Utara&#8230;Mereka telah sampai di dekat kepulauan Seribu&#8230;Seorang wanita menari di atas jembatan layang dekat UI, dan di lain tempat seorang anak kecil berlari dan berteriak, &#8220;Ibu, berhentilah menari&#8221;&#8230;(Jantung Hati, Danarto) itu merupakan beberapa kalimat yang terdapat dalam cerpen janutng Hati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alineakiri.wordpress.com&amp;blog=671909&amp;post=19&amp;subd=alineakiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="Section1">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;">“Banjir”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Jakarta dilanda  banjir&#8230;Dua puluh tiga ekor paus telah menyeret gunung es dari kutub  Utara&#8230;Mereka telah sampai di dekat kepulauan Seribu&#8230;Seorang wanita menari di  atas jembatan layang dekat UI, dan di lain tempat seorang anak kecil berlari dan  berteriak, &#8220;Ibu, berhentilah menari&#8221;&#8230;(Jantung Hati, Danarto) itu merupakan  beberapa kalimat yang terdapat dalam cerpen janutng Hati yang ditulis oleh  Danarto, seorang sastrawan, budayawan, juga pelukis. Dia juga menghasilkan  beberapa karya yang cukup terkenal, mulai dari Jejak Tanah, Selamat Jalan, Nek,  Derabat sampai dengan Godlob, Asmaraloka, dan Orang Jawa Naik Haji. Danarto  memang seorang penulis yang dikenal dengan karya-karya yang absurd, surealis,  bahkan bercorak sufistik atau realisme-magis. Absurd disini, menurut saya, bukan  sesuatu yang tidak konkrit secara objektif karya itu sendiri, akan tetapi dunia  yang ada dalam karya itu adalah sebuah dunia yang -mungkin dianggap- secara akal  sehat tidak masuk dalam nalar manusia. Realita literer dalam sebuah karya  sastra, tidak secara &#8220;sempurna&#8221; digambarkan seorag penulis. Menurut Taufik  al-Hakim, seorang sastrawan Arab, bahwa pengarang adalah ibarat bulan dalam  penciptaan karya sastra. Bulan menerima sinar matahari yang begitu panas, oleh  bulan diserap dan &#8220;diolah&#8221;, kemudian dipancarkan ke bumi dalam bentuk cahaya  yang redup dan teduh. Bagitu juga dengan yang dilakukan oleh seorang pengarang,  dia &#8220;memotret&#8221; apa yang terjadi dalam masyrakat. Dengan repertoir yang ada dalam  pikirannya, kemudian dituangkan kedalam tulisan dan menjadi sebuah  karya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:42pt;"><span style="font-size:12pt;">Hal inilah yang dilakukan oleh Danarto dalam cerpen  <em>Jantung Hati</em> tesebut. Dia berusaha untuk menggambarkan apa yang sedang  terjadi disekitarnya. Cerpen berlatar tempat di Jakarta ini, cukup dalam permalahan yang  &#8220;disimbolkan&#8221; melalui cerita ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:42pt;"><span style="font-size:12pt;">Coba kita perhatikan apa yang Danarto maksudkan dengan  seorang wanita yang menari di atas jembatan layang, dua puluh tiga ekor ikan  paus menarik gunung es dari kutub utara, seorang anak kecil berlari dan terus  menerus berteriak meminta wanita itu untuk berhenti menari. Setelah kita membaca  <em>Jantung Hati</em>, diketahui bahwa wanita itu adalah ibu dari anak tersebut.  </span><span style="font-size:12pt;">Apa maksud  dari semua ini? Apa yang hendak dia ungkapkan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span>Salah satu teori dalam ilmu sastra  yang &#8220;membahas&#8221; tentang simbol adalah teori semiotik. Semiotik adalah  perlambang. Dengan pendekatan mimetik dari Abrams, sebuah karya sastra bisa  dianalisis semiotis. Dengan metode pembacaan heuristik dan hermeneutik,  diharapkan akan menemukan kesimpulan tertinggi bahwa karya sastra adalah sebuah  simbol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:42pt;"><span style="font-size:12pt;">Dalam cerpen itu, terdapat  kata-kata yang saling berkaitan sebagai &#8220;petanda&#8221; dan &#8220;penanda&#8221;. Dimulai dari  kata metropolis, ibukota, ibu, gunung es, kutub utara, dan banjir. Ketika banjir  dalam arti sebenarnya, seperti yang diceritakan dalam cerpen tersebut, melanda  Jekarta, bagi cerpen itu hanyalah sebagai pelengkap atau sebuah peristiwa yang  digunakan untuk merangkai cerita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:42pt;"><span style="font-size:12pt;">Disaat wanita itu menari, tanpa  disadarinya beberapa ekor ikan paus telah menyeret gunung es dari kutub utara.  Oleh pemerintah hal ini ditengarai sebagai salah satu bentuk klenik. Terjadi  <em>kong kali kong</em> antara penari dan ikan paus. Secara langsung ataupun tidak  langsung, penari tersebut memanggil ikan paus itu. Namun bagaimanakah itu  terjadi? Apakah itu susuatu hal yang mungkin terjadi? </span><span style="font-size:12pt;">Bagaimana seorang manusia bisa berhubungan dan membuat  &#8220;perjanjian&#8221; dengan binatang?.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:42pt;"><span style="font-size:12pt;">Banjir semakin meluas ke berbagai daerah di Jakarta. Pasukan khusus  telah dikerahkan pemerintah untuk mengatasi kejadian ini. Walhasil juga sama  saja. Alam tidak “mengijinkan” penari dan ikan paus tersebut diusik oleh pasukan  khusus. Jakarta adalah ibukota  Indonesia. Sebagai daerah ibukota  seharusnya Jakarta menjadi pelindung dan pengayom bagi  daerah-daerah dibawahnya. Seperti halnya seroang ibu yang menjadi pengurus dan  pengatur dalam sebuah keluarga. Ketika ibukota berkehendak untuk mengatur  kehidupan negara itu, khususnya daerah ibukota sendiri, maka dia akan membangun  dan mengembangkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menjadikannya sebuah  ibukota atau kota yang benar-benar megah dan kondusif untuk  segala aktifitas kehidupan manusia. Mall diperbanyak, pusat-pusat perbelanjaan  ditingkatkan, fasilitas umum ditambah, bahkan semua itu dilakukan dengan  menggusur daerah-daerah yang ditempati oleh &#8220;orang-orang kecil&#8221;. Jakarta berusaha untuk menjadi sebuah kota metropolis. Itu  sebabnya mengapa Sang Ibu, sebagai seorang penari, memanggil ikan paus yang  membawa gunung es dari kutub utara. Untuk mencukupi semua kebutuhan di  Indonesia, khususnya ibukota, para penguasa harus mendatangkan &#8220;bantuan&#8221; dari  luar negeri, daerah yang dekat dengan kutub utara atau berhawa dingin. Ketika  bantuan itu disebar keseluruh pelosok negeri maka rakyat yang akan menanggung  itu semua. Mereka akan menerima akibat dari &#8220;banjir&#8221; yang telah didatangkan oleh  penguasanya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:42pt;"><span style="font-size:12pt;">Rakyat sebagi orang bawahan pasti akan berteriak dan  meronta-ronta dengan adanya &#8220;banjir&#8221; tersebut. Seperti yang dilakukan oleh anak  dari penari tersebut. Sang Anak tidak mau ibunya terus menari, karena dengan  lenggak-lenggok tubuh penari tersebut akan terus mengundang ikan paus beserta  &#8220;gunung es&#8221; yang dibawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span>Kita tidak tahu sampai kapan hal  ini akan terjadi. Nampak dalam cerpen itu, bahwa akhir dari cerpen yang terjadi  adalah si anak terus berteriak meminta ibunya untuk berhenti menari, namun sang  ibu tetap saja menari. Sebuah kejadian yang sulit untuk diketahui kapan akan  berakhir.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span>Inilah gambaran, menurut saya,  tentang makna secara semiotik dari cerpen <em>Jantung Hati</em> karya Danarto.  Bagi siapa saja yang membaca apa yang saya tulis ini, mohon untuk memberikan  kritik dan masukan yang membangun bagi pembelajaran saya dalam proses penulisan.  Terima kasih&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span><span>              </span><span>              </span><span>              </span><span>              </span>18 Januari 2006,  14.55</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span><span>              </span><span>              </span><span>              </span>Kantor Dian Budaya, Fakultas Ilmu  Budaya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span><span>              </span><span>              </span><span>              </span><span>              </span><span>              </span>UGM</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alineakiri.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alineakiri.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alineakiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alineakiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alineakiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alineakiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alineakiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alineakiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alineakiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alineakiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alineakiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alineakiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alineakiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alineakiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alineakiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alineakiri.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alineakiri.wordpress.com&amp;blog=671909&amp;post=19&amp;subd=alineakiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alineakiri.wordpress.com/2007/01/18/banjir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2750de27978370173e3a7836db2c9f1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alineakiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>negara</title>
		<link>http://alineakiri.wordpress.com/2007/01/16/negara/</link>
		<comments>http://alineakiri.wordpress.com/2007/01/16/negara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jan 2007 17:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alineakiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alineakiri.wordpress.com/2007/01/16/negara/</guid>
		<description><![CDATA[Negara   Pernahkah kita bertanya dan mendapat jawaban yang pasti tentang makna sebuah negara? Sering kita mendengar dan membaca, baik dalam buku, pidato-pidato, ceramah, juga kuliah, tentang kata negara. Sebuah kata yang, saya pribadi, sulit untuk memahaminya.               Terus terang muncul banyak pertanyaan dalam benak saya tentang hal itu. Apakah negara itu?Fungsi negara bagi dirinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alineakiri.wordpress.com&amp;blog=671909&amp;post=18&amp;subd=alineakiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="Section1">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;">Negara</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:42pt;"><span style="font-size:12pt;">Pernahkah kita bertanya dan mendapat jawaban yang pasti  tentang makna sebuah negara? Sering kita mendengar dan membaca, baik dalam buku,  pidato-pidato, ceramah, juga kuliah, tentang kata negara. Sebuah kata yang, saya  pribadi, sulit untuk memahaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span>Terus terang muncul banyak  pertanyaan dalam benak saya tentang hal itu. Apakah negara itu?Fungsi negara  bagi dirinya sendiri dan &#8220;corak&#8221; negaranya?Bagaimana sebuah negara itu  terbentuk? Sampai pada akhirnya, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">seberapa kuat  hegemoni negara pada warga negaranya?. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span>Negara, salah satunya adalah  Indonesia, yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, apakah &#8220;benar-benar&#8221;  memiliki persamaan yang dirasakan oleh semua warganya dalam hal kebutuhan,  pemikiran, kepentingan, dan ideologi?. Ketika golongan muda mendesak golongan  tua untuk segera memproklamirkan kemerdekaan RI karena Jepang telah menyerah  tanpa syarat kepada Sekutu, itu adalah sebuah langkah yang tergesa-gesa. Dengan  dasar bahwa negara adalah sekumpulan orang yang memiliki persamaan dalam &#8220;hal&#8221;  apapun untuk mencapai sebuah kedaulatan, maka hal itu tidak tercapai dalam  pembentukan sebuah negara yang bernama Indonesia. Hal itu dapat kita lihat  permasalahan- permasalahan pasca proklamasi. </span><span style="font-size:12pt;">Mulai dari pemberontakan DI/TII,  Permesta, Andi Azis, peristiwa Kanigoro, Madiun dan Lubang Buaya. Disamping itu  adanya inflasi besar-besaran, kebodohan dan kemiskinan dimana-mana, seperti yang  ditulis oleh Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran, apa yang sebenarnya  terjadi?. Satu sisi menunjukkan adanya kemakmuran dan kesejahteraan, saat itu  pula terdapat seorang mengais makanan dari tempat sampah dan memakannya.  Benarkah ini negara Indonesia yang sudah merdeka-saat  itu?.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span></span><span style="font-size:12pt;">Sulit untuk menyamakan &#8220;faktor-faktor pendukung&#8221; dalam  pembentukan sebuah negara tersebut. </span><span style="font-size:12pt;">Ditilik dari &#8220;anggota&#8221; negara  Indonesia sendiri yang multi kulture. </span><span style="font-size:12pt;">Dari segi fisik orang Papua dengan orang keturunan  Melayu sudah berbeda, tentu hal itu juga akan mempengaruhi kebutuhan dan pola  pikir. Tentu persepsi orang-orang dari Sabang sampai Merauke akan berbeda, dan  “negara” sesuai dengan persepsi mereka tentang makna dan fungsi negara. Dalam  sekumpulan orang-orang yang memiliki &#8220;kesamaan&#8221; tersebut, dibentuklah sebuah  pemerintahan </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">yang akan mengatur  dan menjaga &#8220;wadah&#8221; tersebut untuk tetap ada dan berkembang. Sebuah beban yang  sangat berat telah dipanggul oleh orang-orang yang terpilih untuk duduk dalam  kursi pemerintahan. Dalam pemikiran J.J. Rousseau, seorang tokoh Prancis,  walaupun dianggap sudah kuno, &#8220;negara adalah&#8221;, kata Rousseau, &#8220;suatu kontrak  sosial atau sesuatu yang dapat dibentuk diatas sepenggal tanah, menyatukan  rakyat dengan pemimpin yang kuat&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:42pt;"><span style="font-size:12pt;">Salah seorang kakak tingkat saya di kampus-seorang  sarjana dalam bidang ilmu sejarah dan mahasiswa pasca sarjana di kampus yang  sama-dia berpendapat bahwa negara adalah sebuah “batasan”. Katanya lebih lanjut,  bahwa hal itu dapat kita lihat dalam berbagai macam hal yang kita alami dalam  masyarakat. Mulai dari bagaimana kita harus membuat katu Tanda Penduduk yang  disitu tertera kata ”Indonesia ”-negara yang entah kapan benar-benar merdeka.  Bahkan ketika kita lahir, kita sudah dicap sebagai seorang warga negara  berdasarkan orang tua kita. Banyak hal-hal lain yang dapat kita jumpai tantang  bagaimana sebuah negara itu membatasi warga negaranya. Namun, bukankah hal itu  salah satu bentuk usaha yang dilakukan negara untuk menjaga keutuhan dan  &#8220;eksistensi&#8221;?. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span>Makna negara bagi seorang Louis  XVI adalah “L’etat c’est moi”, negara adalah saya, katanya. Dalam perjalanan  selanjutnya, dia pun dihukum pancung oleh rakyatnya sendiri. Bagus juga bila  kita melihat dan mempelajari bagaimana seorang George Washington memperjuangkan  kemerdekaan tanah yang akhirnya menjadi negara Amerika Serikat. Seorang Soekarno  membangun dan mempertahankan negara Indonesia ini. Negara, Indonesia pada khususnya, bagi sebagian besar  orang adalah dari Sabang sampai Merauke- yang merupakan salah satu lagu  kebangsaan Indonesia. Daerah yang terbentang  sejauh itu, diklaim sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia,  bersatukah? negara yang konon katanya <em>gemah ripah loh jinawi</em> dan  penduduknya ramah tamah. Salah satu daerahnya pun disebut-sebut sebagai Srambi  Mekah, atau daerah lain yang terkenal dengan salah satu Surga  Dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span>Apakah kita merasa nyaman dengan  &#8220;makna&#8221; negara bagi kita?. Dalam sebuah obrolan dengan teman di sebuah warung  kopi, dia mengatakan -dalam bentuk harapan- bahwa negara adalah sesuatu yang  bisa memberikan rasa aman dan nyaman baik secara fisik maupun batin juga dapat  menampung -tentu tidak hanya ditampung- aspirasi warga negara. Disamping arti  negara bagi dia adalah memberikan sebuah status kewarganegaraan. Saya pikir itu  juga harapan yang mungkin dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Pertanyaannya  adalah, sudahkah negara kita memberikan &#8220;harapan&#8221; itu kepada warga  negaranya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span>Lain halnya dengan arti sebuah  negara bagi seorang Pramoedya Ananta Toer -sastrawan yang masyhur, bagi dia  negara hanyalah selebar tembok pagar pekarangan rumahnya. Negara adalah pembatas  dan salah satu bentuk kekangan yang semakin lama semakin menekan dan menekan.  Dia, Pramoedya AT, merasa tidak punya kebebasan untuk mengungkapakn dan  mencurahkan segala keluh kesah, pemikiran, dan menghasilkan dengan tenang dan  nyaman. Mungkin ada benarnya juga jika kita lihat bagaimana “negara” benar-benar  membatasi pergerakan dan mobilitas dia. Sekuat apa orang menghujat dia sebagai  seorang komunis, namun dia selalu melawan dan melawan. Karena bagi Pram,  semuanya dalah sesuatu yang membatasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>              </span><span> </span>Hal senada juga dirasakan oleh Sitor  Situmorang, negara bagi dia, pernah, hanya sebatas sebuah ruangan kecil yang  berderet dan dikelilingi oleh temboh yang kokoh. Namun, menurut saya. Walaupun  mereka dalam sebuah ruang dan gerakan yang terbatas, setidaknya mereka juga  bebas bahkan “tidak” terbatasi untuk tetap berkarya. Mereka masih bisa menulis  dan menghasilkan karya-karya yang bagus dan terkenal. Bagaimanakah persepsi anda  tentang sebuah negara?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>                                                                                     </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>                                                                                     </span>16 Januari 1006, 01.15</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>                                                                                     </span>Kantor Dian Budaya,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span>                                                                                     </span>Kampus Sastra UGM</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alineakiri.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alineakiri.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alineakiri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alineakiri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alineakiri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alineakiri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alineakiri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alineakiri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alineakiri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alineakiri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alineakiri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alineakiri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alineakiri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alineakiri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alineakiri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alineakiri.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alineakiri.wordpress.com&amp;blog=671909&amp;post=18&amp;subd=alineakiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alineakiri.wordpress.com/2007/01/16/negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2750de27978370173e3a7836db2c9f1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alineakiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
